Hal menarik pada kunjungan Presiden Indonesia, Joko Widodo ke Belanda munculnya teriakan “sepakbola” saat RI1 menjelaskan peluang kerjasama Indonesia-Belanda.

Sepakbola Nanti
Walaupun teriakan itu spontan dan tidak masuk protokol namun tampaknya presiden tersedot perhatiannya. Imbasnya terasa, selain beliau mencoba untuk mendengar dengan baik teriakan itu. Kemudian diwangsuli dengan “Sepakbola.., oo itu nanti”. Dua pekan setelah Jokowi kembali ke Tanah Air (24 April 2016), pemerintah mencabut pembekuan PSSI, Asosiasi Sepakbola Nasional Indonesia.

Insiden peneriakan sepakbola itu bisa dilihat pada video buatan Wahyu Koen pada menit ke 11:00. Eka Tanjung si peneriak tidak memiliki intensi  mengacaukan atau menggangu pidato presiden. Ia hanya merasa urgensi yang tinggi akan situasi sepakbola di Indonesia yang sedang menemui jalan buntu. Sementara kesempatan untuk menyampaikan gagasan kepada presiden Indonesia pada saat itu sudah nyaris nihil.

Sepakbola Paling Penting
Duta Besar RI untuk Belanda, Bapak Puja hanya memiliki kesempatan memilih tiga orang penanya. Mereka tampaknya sudah dipersiapkan sebelumnya. Dubes Belanda, asal Bali itu menyadari akan minimnya waktu tanya jawab. Presiden hanya mengatakan bisa memberi kesempatan kepada tiga penanya.Tiga penyampai, sangatlah sedikit untuk gagasan perbaikan bagi Indonesia. Eka Tanjung menilai bahwa sepakbola sangat penting bagi Indonesia saat itu.

Ketika itu Sepakbola Indonesia sedang kehilangan arah, karena tidak PSSI di suspended  oleh FIFA, federasi sepakbola dunia. Indonesia ditutup dari semua aktivitas sepakbola internasional. Tidak bisa ikut kualifikasi piala Asean, Piala Dunia dan lainnya. Lebih dari itu pelaku sepakbola kehilangan pegangan.

Belum Mulai
Pencabutan pembekuan pemerintah terhadap PSSI, dan pengaktifan kembali keanggotaan FIFA baru langkah kecil pemulihan. Ini belum ada alasan untuk perpesta. Sebab sekarang ini momentum untuk bekerja dengan serius untuk perkembangan sepakbola nasional. Perhatian terhadap pendidikan sepakbola usia dini perlu ditingkatkan.

Pelatih Unggul untuk Generasi Unggul
Hal penting untuk meningkatkan kualitas sepakbola dan mental pada remaja adalah dengan membuka liga-liga sepakbola di pelosok-pelosok. Untuk itu diperlukan pembimbing atau pelatih yang memiliki standar Eropa. Seribu atau 2000 orang pelatih yang mendapat training dan pendidikan level Eropa bisa memberikan asupan mental dan skill tataran internasional. Pelatih pria maupun wanita disebar di setiap kecamatan di seluruh Indonesia. Dia bukan saja pelatih teknis saja! Tapi lebih hanya sekedar melatih main sepakbola. Dia harus mampu menjadi pendidik yang kapabel dan memiliki jiwa dan kecerdasaan luar biasa.

Siapa Dia?
Pelatih adalah sosok panutan, peraih gelar sarjana dengan nilai di atas rata-rata. Bisa berbahasa asing dengan baik dan siap mengikuti pelatihan di Indonesia dan di Eropa seperti Belanda selama beberapa bulan. Dengan materi dan pendekatan pelatih seperti yang dilakukan di Eropa. Mengutamakan kerjasama dalam team, kejujuran, disiplin dll. Pembekalan metal yang setiap hari diberikan kepada pemain di klub-klub amatir Belanda.

Magang
Kader pelatih dari Indonesia yang bersemangat dan bermotivasi tinggi bisa mengikuti pelatihan dan magang di ribuan klub-klub amatir Belanda. Indonesia dengan jutaan pemain sepakbola dan ratusan ribu orang berpotensi menjadi pelatih. Bisa membuat kebangkitan yang luar biasa. Mengejar ketinggalan dalam sepuluh tahun kedepan.

Syaratnya Indonesia harus menyadari bahwa posisi 187 di FIFA sudah tidak bisa diterima lagi. Sekarang saatnya bangkit dan mengentikan pertikaian. Bila kisruh disebabkan karena perebutan uang atau kedudukan, maka faktor itu harus dihilangkan dulu atau diminimalisir. Saat ini Indonesia berkepentingan dengan situasi yang kondusif untuk meletakkan pondasi infra struktur yang dibutuhkan. Indonesia Bisa!!